Menjadikan Labuhanbatu sejahtera 2020, mungkin bukan isapan jempol. Pasalnya, selain “gudang”nya perkebunan sawit, Labuhanbatu juga bakal menuju sentra peternakan sapi/lembu di Sumatera Utara paling tidak di kabupaten itu. Dan saat ini sudah ada 1.200 ekor lembu yang dikelola oleh kelompok tani di daerah itu di luar dari peternakan yang ada selama ini.

Setidaknya itulah yang diungkapkan Wakil Bupati Labuhanbatu H Sudarwanto SP mengawali perbincangannya saat MedanBisnis, diundang berkunjung ke kabupaten tersebut, pekan lalu.
Di rumah dinasnya, dengan ramah Sudarwanto menceritakan panjang lebar kegiatan yang telah dilakukannya. Di antaranya adalah mengembangkan sub-sektor peternakan khususnya ternak lembu. Karena menurut pria kelahiran Berastagi (Karo), 13 Maret 1959 ini, Labuhanbatu memiliki potensi yang luar biasa terutama dari sumber daya alam (SDA).
Di Labuhanbatu, kata dia, ada sekitar 400.000 hektar lahan perkebunan baik sawit maupun karet. Yang berarti, seluas itu juga pakan ternak alami (rumput) yang tersedia. Nah, bila konsentrasi lembu satu hektar untuk satu ekor lembu, itu berarti Labuhanbatu harusnya memiliki 400.000 ekor lembu. Namun, kenyataannya, populasi lembu yang ada hanya 5% atau 20.000 ekor saja.
Sementara dalam satu hari kebutuhan daging lembu (lembu yang dipotong) mencapai 21 ekor. Berarti dalam satu tahun ada 7.665 lembu yang dipotong. Dengan populasi lembu yang ada sekarang, maka 20.000 ekor lembu itu hanya bisa bertahan untuk 2,6 tahun bila tidak dikembangkan. Untuk selanjutnya Labuhanbatu akan kekurangan lembu. “Populasi lembu itu juga masih dipasok dari luar daerah seperti Lampung,” ucapnya.
Berawal dari situlah, lanjut suami dari Sabariah ini, ia kepikiran untuk memberdayakan potensi yang ada, khususnya dari pakan ternak. “Caranya, dengan merangsang mereka-mereka yang punya duit untuk membeli lembu. Saya mencoba mempengaruhi mereka untuk mengalihkan usahanya dengan membeli lembu. Yang tadinya mau dibelikan sawit, saya suruh mereka beternak lembu,” kenang Sudarwanto.
Tentu saja usaha yang dilakukannya itu tidak semudah membalikan telapak tangan. Untuk lebih meyakinkan, calon-calon pengusaha ternak, ia pun harus membuat model terlebih dahulu. “Dengan uang sendiri saya membeli beberapa ekor lembu kemudian saya titipkan dengan masyarakat setempat, tentunya dengan cara bagi hasil. Jadi, saya pemodalnya dan masyarakatlah yang memeliharanya,” jelasnya.
Ternyata sosialisasi yang dilakukan bapak satu putra dan satu putri ini lewat obrolan di warung kopi atau di tiap ada kesempatan tidak sia-sia. Banyak bapak-bapak pejabat yang ada di Kabupaten itu tertarik dengan usaha yang dilakukan Sudarwanto, mulai dari Bupati, Sekda, kepala dinas, camat, luarh atau kepala desa.
“Dan, mulailah mereka membeli lembu-lembu tersebut dengan jumlah yang bervariasi tergantung dari kemampuan mereka. Tetapi, saat ini, total lembu yang dipelihara masyarakat mencapai 1.200 ekor. Jumlahnya mungkin sudah bertambah, karena banyak induk lembu yang telah melahirkan,” ucap Sudarwanto yang memiliki 11 ekor lembu tersebut.
Jumlah lembu itu menurut Sudarwanto di tempatkan di tujuh lokasi yang berbeda dengan jumlah yang berbeda, di antaranya adalah di Desa Perkebunan Pernantian Kebun Smart Estate. Di sana ada 456 ekor yang dikelola sekitar 80 orang yang diketuai Untung Prayetno sebagai Ketua Kelompok Tani Kusuma Andini. Nantinya, kata Sudarwanto, ke tujuh lokasi peternakan itu akan dijadikan sentra peternakan khususnya ternak lembu.
Jadi, lanjutnya, dana yang digunakan untuk lembu itu bukanlah menggunakan dana APBD Labuhanbatu ataupun investor asing melainkan murni dari uang pribadi para pejabat setempat.
Kerja Sama dengan Perkebunan
Kegiatan yang dimulai tahun 2006 lalu ini ternyata tidak hanya disambut kalangan pejabat di daerah itu. Lewat pendekatan pribadi, sejumlah perkebunanpun menurut Sudarwanto menawarkan areal perkebunannya sebagai sumber pakan bagi lembu-lembu tersebut. “Seperti di Desa Perkebunan Pernantian Kebun Smart Estate, mereka memberikan satu hektar lahan kosong untuk pembuatan kandang dan seluas dua afdeling sebagai tempat pengangonan lembu-lembu tersebut,” akunya.
Selain itu ada juga di perkebunan milik PT Binanga Karya dan PTPN 4 yang ada di Labuhanbatu. “Jadi, dari segi cost produksi sangat membantu. Pakan yang diberikan murni rumput alami yang ada di areal kebun. Pagi di angon, sore masuk kandang. Begitulah setiap harinya,” ucap mantan anggota DPRD Labuhanbatu periode 1999 – 2004 ini sambil tersenyum.
Dan, untuk menggenjot populasi lembu di Labuhanbatu, Sudarwanto juga menyarankan kepada pemilik lembu agar tidak menjualnya untuk dipotong. “Boleh dijual, bila untuk dipelihara lagi oleh si pembeli. Dengan begitu, pertumbuhan ternak lembu akan cepat meningkat. Kalau, untuk memenuhi kebutuhan lokal, untuk sementara ini biarlah tetap di pasok dari luar,” jelasnya.